Pada hari Selasa tanggal 28 Februari 2017 lalu, saya berkesempatan mengikuti Bandung Scrum Day 2017 yang diadakan di Grand Royal Panghegar Hotel Bandung, untuk menjadi perwakilan dari perusahaan tempat saya bekerja. Event yang bertema Professionalism in software development, secara garis besar dibagi menjadi 3 sesi yaitu Talks, Coaches corner, dan Open Space.
Sesi Talks diisi oleh 4 pembicara dari Mid Trans, Doku, Dattabot, BCA, dan terakhir dari Joshua Partogi yang bercerita mengenai Agility dalam perusahaan mereka,
Sesi Talks pertama diisi oleh Midtrans yang diwakili Ryu Suliawan, founder dari Midtrans. Sesi Talks ke 2 Doku yang diwakili Arthur Purnama. Pada sesi Talks ke 3 yaitu Dattabot yang diwakili langsung oleh CEO nya Regi Wahyu. Sesi Talks ke 4 diisi BCA yang diwakili oleh Fransiscus Kaurrany (Senior VP of BCA). Sedangkan sesi Talks terakhir diisi oleh Joshua Partogi yang menjelaskan mengenai fixed priced contract project.
Untuk sesi Coaches Corner yang dilakukan disela-sela pergantian sesi merupakan suatu sesi “free” dimana para peserta bisa menanyakan segala macam hal mengenai scrum kepada para scrum coaches berpengalaman yang sudah bersiap di tempat yang disediakan. Untuk sesi coaches corner ini saya lihat tidak banyak peserta (jika dilihat dari jumlah total peserta) yang memanfaatkan sesi ini, karena memang sesi coaches corner ini yang dilakukan hanya sekitar 15-30 menit dan berbarengan dengan coffee break sehingga mungkin peserta lebih tertarik untuk mengisi perut mereka 😀 , dan lagi jumlah scrum coaches yang sejauh saya amati, dapat dihitung dengan jari.
Sesi Open Space merupakan suatu sesi untuk diskusi atau sharing antara peserta ke peserta atau dari scrum coches ke peserta, sehingga dalam sesi ini para peserta dapat aktif untuk memberikan masukan kepada semua orang yang ada dalam ruangan tersebut. Open Space ini dalam satu waktu yang bersamaan, ada beberapa topik yang diangkat yang dilakukan dalam ruangan yang berbeda. Salah satu open space yang saya ikuti adalah yang bertema “How to empower people to shine through scrum retrospectives”, dalam topik ini banyak mendiskusikan mengenai Sprint Retrospective. Yang menarik dalam diskusi tersebut ada peserta yang menganggap Retrospective itu sesuatu hal yang penting dalam Scrum namun ada juga yang menganggapnya justru hal yang tidak penting, dari situ masing-masing peserta menjelaskannya dari sudut pandang masing-masing dan saling share pengalmannya.
Setelah seharian mengikuti sesi talks, coaches corner dan open space dari Scrum Day Bandung 2017. Hal penting yang dapat saya ambil adalah dalam menerapkan Scrum yang terpenting menghayati dari proses scrum itu sendiri yang berlandaskan dari Scrum Values, bukan hanya menjalankan sama persis atau saklek seperti apa yang ada dalam scrum guides namun tidak tahu esensi dan goal dibalik itu semua.
Bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai Scrum bisa mempelajarinya langsung dari sumber resminya yaitu di http://www.scrumguides.org/
Akhir kata , CMIIW .




Buku Think Fresh yang dari covernya sudah menarik perhatian ini merupakan buku karya Danny Oei Wirianto yang ditulis berdasarkan pengalaman hidupnya yang sempat bekerja di Adobe sampai bersama rekan-rekannya mendirikan Semut Api Colony, suatu perusahaan yang bergerak dibidang branding dan marketing.

Dalam mencapai suatu tempat, setiap orang akan mempunyai rute perjalanannya masing-masing, meskipun semuanya berangkat pada titik lokasi yang sama. Saat tiba di persimpangan jalan pertama, ada yang mengambil jalan ke kiri , ada yang ke kanan, dan ada yang terus lurus ke depan.
