Zero to One oleh Peter Thiel

zerotoone

Selepas keluar dari perusahaan tempat saya bekerja, sambil mengisi waktu di liburan panjang ini (baca: nganggur), saya habiskan sebagian waktu untuk membaca buku Zero to One karangan Peter Thiel (ex co founder Paypal, founder Palantir, Facebook investor). Awalnya saya tertarik untuk membaca buku ini karena buku ini direkomendasikan oleh Elon Musk (ex co founder Paypal, founder Tesla & Space X) yang juga merupakan rekan Peter Thiel saat di Paypal.

Dengan jumlah halaman 244 (saya membaca versi terjemahan Indonesia), buku ini sebenarnya merupakan rangkuman catatan kuliah salah seorang murid Peter Thiel, bernama Blake Masters di kelasnya Peter Thiel di Universitas Stanford.

Buku Zero to One, banyak bercerita mengenai competition, innovation, future technology sampai masalah global warming. Dalam buku ini, Peter Thiel berpendapat bahwa penciptaan dari 0 ke 1 adalah membuat sesuatu yang “baru” bukanlah mengerjakan hal yang sudah ada. The next Bill Gates tidak akan membuat sistem operasi, the next Larry Page tidak akan membuat mesin pencari lagi. Selain itu dia selalu menekankan bahwa fondasi awal atau di waktu awal dalam menjalankan perusahaan haruslah benar, karena kecacatan di fondasi akan sulit diperbaiki di masa mendatang. Mengambil keputusan yang salah di awal seperti memilih mitra atau merekrut orang yang salah akan berujung fatal di masa depan.

Dot com bubble atau internet bubble yang terjadi di akhir tahun 90 an  (1998-2000) dimana banyak perusahaan berbasis internet yang runtuh, juga turut menjadi topik pembahasan dalam buku ini. Dalam masa itu banyak perusahaan internet saling bersaing dan berperang satu sama lain, ia berpendapat persaingan yang menimbulkan situasi perang tersebut hanya merugikan kedua belah pihak.

Pada tahun 1999, Paypal bersaing dengan X.com yang mempunyai layanan serupa dengan Paypal. Namun pada Februari 2000, Peter Thiel dan Elon Musk lebih mencemaskan pada situasi internet bubble yang sedang melanda saat itu, yang dapat menyebabkan kedua perusahaan runtuh saat mereka sibuk bersaing. Sehingga pada bulan Maret Peter Thiel selaku  pendiri Paypal dan Elon Musk sebagai pendiri X.com bertemu untuk membahas suatu solusi yang dapat menyelamatkan kedua perusahaan. Maka diambil opsi merger 50:50 dan kedua perusahaan tersebut bersatu.

Ada hal yang menarik juga dalam buku ini, dimana ia membahas mengenai suatu prasangka negatif dari para teknisi yang menganggap pekerjaan para pemasar/penjual itu merupakan pekerjaan yang tidak sulit. Peter Thiel mengungkapkan bahwa sebagus apapun teknologinya, produk tersebut tidak akan bisa secara tiba-tiba akan dapat sampai ke pelanggan, dimana saat para produk tersebut tidak sampai ke pelanggan, menyebabkan semua itu akan sia-sia, maka dibutuhkannya peran besar dari para pemasar dalam hal ini.

Dia pun banyak bercerita mengenai pengalamannya saat menjalankan Paypal sampai bagaimana ia mendirikan Palantir. Palantir diceritakannya juga dalam buku ini disebut mempunyai peran dalam penangkapan Osama bin Laden.

Saat Peter Thiel masih menangani Paypal, mereka pernah mendapat suatu masalah keamanan serius akibat penipuan kartu kredit. Dari masalah inilah ia mendapatkan suatu pelajaran yang berharga yaitu saat algoritma dalam sistem paypal yang mereka kembangkan tidaklah cukup untuk mengatasi transaksi penipuan dan juga tidak mungkin hanya mengandalkan kerja manusia secara manual maka dibuatlah sistem hibrida yang membuat kolaborasi antara teknologi dan manusia, dimana teknologi berperan sebagai suatu “filter” dan operator manusialah yang berperan dalam keputusan akhir. Dari sistem hibrida ini yang membuat suatu gagasan pada benaknya untuk kemudian mendirikan perusahaan berikutnya, Palantir.

Buku Zero to One ini sangatlah bagus untuk membentuk pola pikir yang tepat dan memperkaya pengetahuan kita dalam menjalankan suatu perusahaan atau saat ingin memulainya, sampai memandang fungsi dari teknologi, yang ia anggap teknologi bukanlah pengganti manusia, namun pelengkap dari manusia yang dapat menciptakan kolaborasi hebat antar teknologi-manusia yang akhirnya dapat menciptakan kebaikan bagi manusia sendiri.

Selanjutnya, saya berencana untuk membaca buku “The Hard Thing About Hard Things: Building a Business When There Are No Easy Answers” dari Ben Horowitz (co founder Andreessen Horowitz).

No Comments

Post a Comment