Apakah Bajak Laut Topi Jerami menggunakan Agile dan Scrum Dalam Mencari One Piece?

Bagi pecinta manga, kalian pasti tidak asing dengan manga karya Eichiro Oda One Piece. Manga yang begitu fenomenal yang menjadi best selling manga selama bertahun tahun itu, menceritakan kisah Monkey D Luffy sebagai kapten kelompok bajak laut topi jerami dalam mencari One Piece.

Jika kalian mengikuti cerita Luffy  dari awal sampai saat ini, akan banyak kesamaan nilai dan cara kerja yang dilakukan Kelompok Topi Jerami dengan nilai nilai yang diperlukan oleh suatu scrum tim. (Bagi yang belum tahu apa itu scrum bisa langsung pelajari disini https://scrumguides.org/) .

1. Mempunyai Fokus 1 Goal yang sama  

Meski masing masing anggota kelompok topi jerami mempunyai cita cita yang berbeda-beda, seperti Zoro yang ingin menjadi pendekar pedang terhebat, Sanji yang ingin menemukan All Blue dan Nami yang ingin membuat peta dunia. Namun mereka semua mempunyai komitmen dan tujuan yang sama yaitu untuk menjadikan Luffy menjadi Raja Bajak Laut dengan cara menemukan One Piece sehingga menjadi orang yang paling bebas di lautan.

Sama seperti halnya scrum tim yang berfokus pada satu Product Goal dan Sprint Goal yang sama dalam satu waktu .

2. Kecerdasan Kolektif

Setiap anggota bajak laut topi jerami memiliki keunikan dan kemampuan masing-masing yang membantu mereka dalam berkolaborasi untuk  mencapai tujuan mencari One Piece.

Zoro yang jago dalam menggunakan pedang, Sanji yang hebat dalam memasak sehingga membantu kehidupan mereka sehari hari,   Nami yang memiliki pengetahuan navigasi dan menjadi navigator untuk Thousand Sunny, dan Brook yang seorang musisi yang dapat menghibur anggota lainnya dengan kemampuan bermusiknya.

Scrum yang dibangun berdasarkan kecerdasan kolektif orang orang yang menggunakannya, dan anggota yang cross functional yang memiliki semua kemampuan yang diperlukan untuk menciptakan value di setiap sprint nya.

3. Tim Kecil yang Gesit

Sampai tulisan ini dibuat jumlah anggota topi jerami baru berjumlah 10 orang. Sangat jauh jika dibandingkan dengan kelompok bajak laut Whitebeard yang terdiri dari 16 divisi dengan masing masing divisi berisi 100 orang, padahal sama sama menyandang status Yonkou.

Sama halnya dengan scrum tim yang cukup kecil untuk tetap gesit dan cukup besar untuk menyelesaikan pekerjaan penting dalam Sprint, yang berjumlah 10 orang atau kurang.

4. Self Manage dan Adaptif

Jika kalian perhatikan selama ini, Monkey D Luffy sebagai kapten Topi Jerami,  tidak pernah membatasi rekannya dalam bagaimana mencapai tujuannya, dia memberikan ruang agar rekannya dapat berkreasi dengan kemampuannya masing masing.

Misalnya , Luffy tidak pernah kan bicara ke Zoro saat bertarung agar jangan pakai 3 pedang karena itu tidak efisien, atau bicara pada Usop agar jangan pakai ketapel namun menggunakan senjata api saja karena itu lebih mematikan.  Luffy hanya memberikan tujuan dari tiap Arc nya siapa yang ingin dia kalahkan dan kenapa alasannya.

Namun bukan berarti ketika hendak bertarung kelompok Topi Jerami tidak saling berkoordinasi dan merencanakan terlebih dahuu diawal. Mereka merencakannya diawal terlebih dahulu dan  mereka  sudah tahu apa yang perlu dilakukan dengan kemampuan masing masing. Meski seringkali rencana yang mereka pikirkan diawal, tidak berjalan lancar saat menghadapi musuh, mereka seringkali dapat berimprovisasi dan menyesuaikan rencana saat kondisi berubah sehingga mereka bergerak secara adaptif.  Ya kalau ingat Zoro yang buta arah dan Luffy yang short minded, banyak rencana yang tidak sesuai diawal :D.

Self Manage dan Adaptif juga sangat dibutuhkan oleh suatu scrum tim untuk membangun suatu produk yang berkualitas.

5. Courage, Focus, Commitment, Respect, and Openness

Courage, Focus, Commitment, Respect, and Openness yang merupakan 5 scrum values , tercermin juga pada diri Luffy dan kawan kawan dalam petualangannya mencari One Piece.

6. Challenge Status Quo

Monkey D Luffy yang berani menentang  organisasi World Government karena banyak melakukan ketidakadilan, Sama halnya dengan scrum tim juga perlu men challenge status quo dalam organisasi untuk membawa perubahan  kearah yang lebih baik.

 

Dengan banyaknya kesamaan tersebut, cukup valid rasanya jika kita cocoklogi kan  Kelompok Bajak Laut Topi Jerami menggunakan Agile & Scrum dalam mencari One Piece, dan merupakan contoh Super Scrum Team yang berhasil.

Namun apakah super scrum tim seperti itu hanya mungkin ada di dalam Manga, mungkinkah ada di dalam suatu perusahaan tempat bekerja ?
Bagaimana dengan tim kalian, apakah ingin atau sudah menjadi seperti kelompok topi jerami ?
Jika tim kalian adalah kelompok Topi Jerami, menjadi siapakah kalian , Luffy , Zoro atau Nami ?

Nonton Film Downtown Rocket

Downtown Rocket atau Shitamachi Rocket, salah satu film drama favorit saya yang banyak membahas mengenai dunia kerja selain Misaeng (2014).

Sama halnya dengan Misaeng, Downtown Rocket banyak menyajikan drama, intrik, dan politik yang sering terjadi di dunia kerja namun disajikan dalam cara yang berbeda.
Film yang juga ditayangkan di channel WakuWakuJapan, lebih banyak menggambarkan nuansa optimis yang menjadi ciri khas tokoh utama film ini, Tsukuda Kohei seorang Presiden Direktur perusahaan Tsukada Manufacture yang diperankan Hiroshi Abe.

Jadi gini cerita singkatnya.
Awalnya Tsukada ini seorang peneliti di suatu badan eksplorasi luar angkasa milik pemerintah Jepang. Namun suatu hari karena kegagalan meluncurkan roket yang dipimpinnya, ia pun mengundurkan diri.
Dan dalam waktu yang sama, ia harus mewarisi perusahaan yang ditinggalkan ayahnya untuk menjadi Presiden Direktur, Tsukada Manufacture.
Jadi Presdir, banyak kesulitan yang dihadapi, mulai dari ditipu rekan bisnis, konflik internal dengan karyawan, sampai frustasi dalam hal kemampuan teknis untuk mengembangkan produk yang berkualitas.
Tapi dari semua kesulitan itu, Tsukada selalu mendapat jalan keluarnya karena sikapnya yang selalu optimis. Meskipun terkadang ia merasa frustasi namun karena dukungan orang sekitarnya, ia selalu bisa bangkit.

Film Downtown Rocket terdiri dari 2 season, dan 1 film special.
Di season 1 (2015) lebih banyak membahas mengenai proses pengembangan roket antara Tsukada Manufacture dan Teikoku Heavy Industries.
Di season 2 (2018), masih kolaborasi yang sama antara Tsukada Manufacture dan Teikoku Heavy Industries, namun mereka sekarang lebih berfokus pada pengembangan alat pertanian otomatis.
Di film special, yang merupakan sequel dari season 2, melanjutkan cerita dalam mengembangkan alat pertanian otomatis yang bernama Landcrow.

Yang saya suka dari film ini, akting dan karakter para aktor/aktris yang dibawakan dengan baik. Hiroshi Abe benar-benar sukses membawakan karakter Tsukada Kohei yang penuh dengan rasa optimis, integritas, dan rasa bangga sebagai seorang engineer. 1 lagi karakter yang saya suka yaitu Zaizen Michio yang diperankan Koji Kikkawa, salah seorang petinggi di Teikoku Heavy Industries yang ga banyak omong dan alasan, dalam menyikapi suatu masalah meskipun sering berada dalam kondisi terjepit karena kelakuan atasannya.

Sebagai penutup, 5 poin kesan yang bisa dirangkum dalam film ini yaitu:
1. Sesulit apapun kerjaan, asal punya mimpi dan keyakinan, pasti ada jalan.
2. Bekerja dengan integritas, bukan jalan pintas.
3. Sekotor apapun politik di dunia kerja, harus dihadapi dengan cara yang bersih.
4. Idealisme dan rasa bangga dalam bekerja dibutuhkan tapi bukan untuk memuaskan ego diri sendiri.
5.Kesuksesan ga ada yang instan

Nonton Film Schindler’s List (1993)

Schindler's_List_movie

Schindler’s List , film yang dirilis tahun 1993 yang disutradarai Steven Spielberg ini mungkin tidak sepopuler karya Spielberg lainnya seperti Jurassic Park dan Saving Private Ryan untuk penonton di Indonesia.

Film  bertemakan Perang Dunia II ini, yang menceritakan pembantaian orang-orang Yahudi di Polandia ini disajikan dalam format hitam putih.
Dari banyak kisah mengenai pembantaian orang Yahudi oleh Nazi selama perang dunia II, film ini mengangkat kisah seorang pengusaha Katholik yang dilahirkan di Ceko bernama Oskar Schindler.

Oskar Schindler ingin membangun perusahaan baru di Polandia, dan agar biaya operasional rendah, dia mempekerjakan orang-orang Yahudi yang tinggal di Polandia karena orang Yahudi memiliki tarif gaji yang lebih rendah dibanding orang Polandia.
Untuk mencari orang-orang Yahudi tersebut, dia merekruit seorang akuntan Yahudi bernama Itzhak Stern yang menjadi tangan kanannya dan mengurus operasional harian pabrik.

Singkat cerita, semakin lama ia tinggal di Polandia, ia sering melihat kekejaman tentara Nazi pada orang-orang Yahudi. Yang awalnya ia mempekerjakan orang Yahudi untuk mendapat biaya yang rendah, lama kelamaan ia berniat untuk memang membantu orang-orang Yahudi tersebut.

Suatu hari, ia mengetahui rencana Nazi untuk mengirim orang-orang Yahudi tersebut ke sebuah kamp konsentrasi untuk dibantai. Agar mereka selamat, Oskar memiliki rencana untuk memindahkan mereka ke pabriknya yang ada di wilayah Ceko yang memproduksi alat-alat keperluan perang bagi Jerman. Agar rencana tersebut berjalan, Oskar bersama Stern membuat daftar yang berisi sekitar 1100 orang Yahudi yang akan dipindahkan. Namun rencana tersebut tidaklah mudah, karena Oskar haruslah menyuap pejabat Nazi untuk setiap orang Yahudi yang ada dalam daftar, dimana penyuapan ini menjadi awal mula kebangkrutan Oskar.

Akhirnya, semua orang yang ada dalam daftar sudah tiba di pabrik baru tersebut di wilayah Ceko. Disini keselamatan mereka terjamin, dan menunggu sampai situasi perang dunia mereda. Selama pabrik tersebut beroperasi, Oskar terus menderita kerugian materil karena ia harus menggaji 1100 karyawannya, sedangkan hasil produksi banyak yang ditolak oleh pasar karena tidak berkualitas, yang menyebabkan Oskar benar-benar bangkrut kali ini.

Sampai akhirnya, Jerman menyerah pada Sekutu, dan orang-orang Yahudi tersebut benar-benar terbebas dari tentara Nazi. Namun berbeda dengan Oskar, ia harus melarikan diri karena ia adalah anggota Partai Nazi.

Diakhir film ini, ada kejadian yang benar-benar menyentuh, saat Oskar akan berpisah dengan para karyawannya. Ia menyesal tidak menjual hartanya yang tersisa yaitu mobilnya dan lencana emas, yang dapat memasukkan beberapa orang lagi kedalam daftar, bahkan ia terus menyesal mengapa ia tidak bisa menghasilkan banyak uang lagi.

Whoever saves one life saves the world entire

Fakta menarik dalam film ini adalah sang sutradara, Steven Spielberg menolak untuk dibayar membuat film ini, karena sama saja dengan menerima “uang darah.

 

 

Buka Puasa Bareng

Seperti biasanya, setiap bulan puasa tiba, pastilah di hampir setiap kantor akan mengadakan buka puasa bareng. Momen ini tentunya bukan hanya untuk sekedar berbuka puasa untuk melepas rasa lapar dan dahaga, tapi juga menjalin keakraban antar rekan kerja.

Buka puasa yang kedua kalinya yang saya ikuti di perusahaan tempat kerja saya kali ini, diadakan di suatu hotel di kawasan setiabudi Bandung. Pemandangan malam kota Bandung terlihat jelas malam itu, karena santap malam dilakukan dilantai teratas hotel tersebut. Sejuknya udara Kota Bandung pun terasa menemami kami malam itu, karena tempat makan di lantai teratas hotel tersebut memiliki konsep semi outdoor.

Malam itu semua menikmati makanan yang disajikan, terlebih lagi banyaknya roti dan cake manis yang disajikan yang menjadi makanan favorit saya ditempat itu. Sambil diiringi canda tawa dan senda gurau menambah kehangatan suasana malam itu.

Entah tahun depan apakah bisa merasakan momen ini atau tidak…….

bukber-itasoft1

bukber-itasoft4

bukber-itasoft3

bukber-itasoft5

Belajar Value Proposition Canvas di Kamis Kliwon

Kata orang-orang, kalau mikirin kerja terus bisa bikin depresi apalagi kalau kerjaan numpuk sampai ada waiting listnya, client terus komplain, berantem sama rekan kerja sendirilah yang bikin baper. Jadi kata orang-orang lagi, obatnya bisa cari kegiatan diluar yang bisa menyegarkan pikiran.

Di hari kamis kliwon ini sehabis balik kantor, saya ikut suatu event dengan tema Product Design Workshop  di Makers Institute. Teknik dalam mendesain produk yang dipakai di workshop tersebut memakai Value Proposition Canvas. Sekilas sepertinya saya pernah dengar istilah seperti ini, dan ternyata Value Proposition Canvas ini adalah bagian dari Business Model Canvas yang pernah saya pelajari sekilas sekitar 2 tahun lalu. Kalau bisa disebut bagian dari Business model canvas atau tidak, ya kurang tahu juga ya, tapi yang jelas ini ada kaitannya.

Kalau dipikir-pikir lagi ini sepertinya mirip dengan teknik Javelin Board yang intinya kita harus memvalidasi asumsi/ide yang kita tetapkan diawal.

Jadi seperti ini, di Business Model Canvas itu ada 9 bagian yaitu Key Partners, Key Activities, Value Propositions, Customer Relationship, Customer Segments, Key Resources, Channels, Cost Structure, dan Revenue Streams.

business-model-canvas

Nah sedangkan Value Proposition Canvas itu, hanya fokus di Value Propositions dan Customer Segments saja, namun lebih didetailkan lagi.

value-propositions-canvas

Di Value Propositions itu detailkan lagi menjadi Product & Servies, Gain Creators, dan Pain Relievers. Sedangkan Customer Segments dibagi menjadi Gains, Pains, dan Customer Jobs.  Lalu bagaimana caranya:

Yang pertama harus kita identifikasi itu Customer Segments, lalu barulah mencari Value Propositions nya.

Yang kedua, kalau salah mengidentifikasi Customer Segments  , pastilah Value Proposition nya ngaco………

Yang ketiga, dalam melakukan validasi nantinya ada suatu tool bernama Test Card.

Yang keempat, setelah Test Card ada hasilnya, barulah bisa membuat Learning Card.

Yang kelima, udah dulu ya, untuk detailnya lagi mungkin dibahas di posting selanjutnya ya, karena sejujurnya belum ngerti-ngerti amat 😀 .

 

Lookats Conference 2017

 

lookats2Hari Kamis dan Jumat lalu, saya sempatkan untuk datang ke acara Lookats Conference 2017 yang diiadakan di Trans Convention Centre. Lookats Conference sendiri adalah suatu acara yang diadakan selama 3 hari yang menghadirkan para pelaku di industri kreatif, yang tidak hanya berasal dari perusahaan IT saja namun juga dari fashion , F&B, dan sport. Diantaranya adalah Agate Studio, BukaLapak, Tiket.com, GoJek, Line, Brodo, Warunk Upnormal Group dan masih banyak lainnya.

Dengan tiket seharga Rp 175.000 per hari, Lookats menghadirkan para pembicara yang merupakan para founder atau juga orang-orang yang berada di posisi top manajemen perusahaan tersebut, sebut saja ada Natalie Ardianto CTO/co founder TIket.com , Arief Widhiyasa co founder Agate Studio, dan Dayu Dara Permata Vice President GoJek. Bahkan awalnya juga mengundang Wali Kota Bandung Ridwan Kamil di Day 2, namun karena berhalangan hadir sehingga harus diwakilkan.

 

lookats

Di suatu sesi dengan pembicara Arief Widhiyasa co founder Agate Studio yang bertemakan The overlooked: Team & People Management, mengatakan bahwa visi dari the whole team haruslah berada dalam satu garis yang sama, dalam artian visi para karyawan tidaklah harus sama persis dengan visi perusahaan, namun jika para karyawan membantu perusahaan mencapai visinya maka visi masing-masing karyawan tersebut akan juga tercapai.

Arief Widhiyasa mencontohkannya dengan film One Piece, dalam film tersebut Monkey D Luffy kapten kelompok bajak laut Topi Jerami mempunyai cita-cita menjadi Raja Bajak Laut. Namun para kru lainnya di kelompok bajak laut Topi Jerami masing-masing mempunyai cita-cita yang berbeda seperti Nami yang ingin membuat peta dunia, Sanji yang ingin mengumpulkan ikan di seluruh dunia. Baik Nami dan Sanji sadar jika mereka membantu kaptennya Monkey D Luffy menjadi raja bajak laut, maka cita-cita mereka pun otomatis akan tercapai juga, sehingga mereka dengan sepenuh hati selalu membantu Luffy dan mereka menjadi tim yang solid. Jadi dari sana adanya hubungan yang saling menguntungkan di  kedua belah pihak disamping gaji para karyawan.

Di sesi lain, founder Brodo dan Talenta.co yang ada dalam satu panggung sepakat bahwa hal tersulit dalam mengelola perusahaan adalah manage the people. Founder Talenta, Joshua Kevin mengatakan mengelola karyawan lebih sulit daripada membuat dan menjual produk. Serupa dengan Talenta, Brodo yang awalnya terbentuk dari lingkungan pertemanan sehingga budaya “pertemanan” masih lekat di tubuh perusahan, membuat mereka kesulitan saat akan bertindak tegas pada karyawan yang memiliki performa buruk. Mereka juga mengatakan janganlah asal dan salah dalam merekruit karyawan, carilah karyawan yang benar-benar dibutuhkan.

Dalam sesi yang dibawakan oleh Berkraf (Badan Ekonomi Kreatif Indonesia) diperkenalkan suatu “trend” dimana banyak perusahaan yang keluar dari core businessnya . Contoh saja Gojek yang semula adalah perusahaan logistik/transportasi namun sekarang juga menjadi “bank” dengan diluncurkannya Go Pay, bahkan juga dengan adanya Go Food dan Go Mart bisa dikategorikan sebagai ecommerce. Selain Gojek ada juga Telkomsel yang sekarang juga masuk ke sektor Fintech dengan adanya T Cash.

Dalam acara ini, tidak hanya saja terus membahas mengenai how to run a bisnis, branding, atau mengelola karyawan. Namun juga ada lesson life yang didapat dari acara ini, salah satunya adalah dari CEO Kibar, Yansen Kamto yang sedang mengkampanyekan gerakan 1000 startup digital. Yansen yang sejak kecil sudah dididik untuk saling berbagi dengan sering mengunjungi Panti Asuhan bersama ibunya untuk berbagi makan disana, sehingga rasa kepedulian itu tertanam dalam dirinya hingga sekarang. Yamsen juga mengatakan “Indonesia tidak butuh orang pintar, tapi butuh yang punya hati.”

 

lookats3

lookats4

 

lookats5

Ikut Pameran

Tanggal 2-3 September lalu, saya mengikuti pameran berjudul Bandung Toys Kids Expo 2017 di Graha Manggala Siliwangi dengan menyewa stand/booth berukuran 4×4 M untuk toko online saya Banzai Figurine. Pameran yang buka dari jam 10 Pagi hingga 8 malam ini saya lihat tidak seramai sekitar 4 tahun lalu saat saya datang sebagai pengunjung. Jadi ya penjualan juga tidak terlalu banyak, ya memang targetnya bukan mengambil keuntungan dari penjualan selama pameran, tapi lebih memperkenalkan lebih jauh brand toko online saya tersebut untuk mencari calon customer baru dari segmen yang lain.

Namun topik utama post ini bukan membahas mengenai penjualan dari pameran ini, namun lebih mengangkat para exhibitor atau orang orang yang menyewa stand/booth selama pameran.

Pamerannya sih cuman 2 hari, tapi bisa bayangin kan selama 2 hari itu harus nungguin booth selama sekurangnya 10 jam. Iya emang bisa gantian, tapi tetep kaki pegel nungguin booth berjam-jam. Yang lebih melelahkan sih bukan hanya selama pamerannya, tapi persiapan membangun stand sebelum pameran mulai atau istilahnya loading dan beres-beres booth setelah pameran beres. Iya kalau barang dagangannya dikit sih gampang coba kalo sampai ratusan, belum lagi beresin meja-meja, lemari dan barang berat lainnya dalam waktu yang singkat (ya karena jam loading dan beres-beres kan ada batasnya). Itu semua melelahkan sekali.

Kalau saya sih barang-barangnya seperti lemari, meja itu ga berat-berat amat, namun saya lihat booth lain yang jauh lebih besar dengan lemari-lemari beratnya dan hanya dibereskan oleh 2-3 orang , atau malah dibantu sama anak-anaknya yang masih kecil.

Jadi kadang saat kita mengunjungi pameran, liat-liat barang di booth lalu bilang, barangnya ga lengkaplah, mahal-mahal lah. Ya ok sah-sah aja customer bilang gitu , tapi rasanya bukan dengan perasaan yang menghakimi atau kesel, atau hal lainnya yang lu ga mikir sama sekali kondisi para exhibitor.

 

EnjoyUX Meetup: UX Research Theory & Hands On

19756524_10208858388446610_2468250787748799863_n

Berawal dari group facebook UXID (UX Community in Indonesia) , ada yang posting  promo event EnjoyUX Meetup: UX Research Theory & Hands On, dan kebetulan lokasi di Bandung yaitu di ITB dan diadakan di hari Sabtu yang pastinya di hari Sabtu saya biasanya ga ada acara diluar , sehingga saya tertarik mendaftarkan diri untuk ikut acara tersebut.

Ya sekalian cari angin lah diluar, apalagi tempatnya di tempat kuliahan, biar jadi berasa anak muda lagi. Hehe bercanda ya , karena sebenarnya saya sudah tertarik dengan UX ini, karena ilmu UX ini merupakan ilmu yang banyak mempelajari atau mengamati perilaku manusia.

Acara tersebut diisi tiga orang pemateri, yang ketiganya dari Somia, suatu konsultan UX yang menangani customer experience suatu perusahaan. Baru tahu saya ada perusahaan yang khusus menangani Customer Experience, tahunya dari dulu perusahaan-perusahaan riset pasar saja. Dan dari perusahaan ini baru tahu juga kalau bidang UX ini sangatlah luas kebutuhan dan manfaatnya, kalau dari jaman kuliah sudah tahu ada perusahaan-perusahaan model seperti ini, mungkin dari dulu sudah fokus belajar dan eksplor bidang ini.

Dalam acara EnjoyUX Meetup: UX Research Theory & Hands On yang lebih banyak dihadiri peserta dari kalangan mahasiswa, tidak hanya dijelaskan mengenai teori fundamental dari UX, namun ada sesi untuk mengerjakan suatu studi kasus yang dikerjakan dalam suatu kelompok. Acaranya memang bisa dibilang cukup singkat hanya 1 hari dari jam 9.45 sampai 16.00, namun cukup banyak hal yang bisa bikin saya manggut-manggut.

Lalu apa aja sih yang bikin saya manggut-manggut itu  ?

UX is Not ONLY About Digital Product

Karena di era per startup-an ini, sekarang populer dengan istilah UX atau User Experience, mungkin banyak yang mengira UX hanya dipakai untuk digital product saja, sebenarnya ga juga ya, semua produk baik itu digital atau non digital juga berlaku ilmu UX ini, contohnya coba nonton video ini.

 

 

What Make Good UX ?

good-ux

Who Responsible for Good UX ?

Semua anggota tim bertanggung jawab atas hasil UX produk tersebut, bahkan Board of Directors. Kenapa ? karena ilmu UX ini akan melibatkan multi disiplin ilmu, sehingga hasil UX suatu produk membutuhkan kerja sama dari banyak bagian.

allignments

 

Do RESEARCH !

Untuk melakukan peningkatan terhadap customer experience , perlu dilakukan riset yang mendalam mengenai kasus yang dialami. Ada banyak metode dalam melakukan user research, yaitu:

  • In Depth Interviews
  • Rapid Etnography
  • Survey
  • Group Discussion
  • Card Sorting
  • Camera Journal / User Diary
  • Usability Testing
  • Expert Heuristics Testing
  • Eye Tracking
  • A/B Testing

Dalam pemilihan metode mana yang akan dipilih sebagai metode riset, perlu disesuaikan dengan kasus yang dihadapi, waktu riset  dan juga tentunya dengan budget yang dimiliki (emang riset ga butuh biaya apa ?).

Udara sudah semakin dingin, kesunyian pun semakin menjadi, itu tandanya tulisan ini harus saya akhiri, mungkin suatu hari akan saya update tulisan ini kalau ada yang terlupakan ya.

Ide Startup: Foodie Talk

Berawal dari kebiasaan saya sendiri yang selalu bingung mau makan apa saat jam makan siang tiba. Keluar gedung kantor, lihat banyak pilihan makanan bingung mau makan apa, sampai sampai waktu makan bareng di foodcourt, temen temen yang lain udah makan, saya masih bingung sendiri mau pesen makan apa, hehe sampai segitunya ya.

Sebenarnya ini ide lama yang pernah saya presentasikan di depan rekan rekan tempat kerja saya dulu yang dilombakan dalam suatu workshop internal perusahaan bertemakan startup. Ide ini kami (lomba dibagi dalam kelompok) sepakati dengan nama Foodie Talk, semacam asisten virtual untuk urusan kebutuhan makan & minum. Aplikasi tersebut dapat memberikan rekomendasi makanan atau minuman apa yang cocok kita santap saat itu. “Kecocokan” makanan yang direkomendasikan dapat berasal dari banyak faktor semisal riwayat kesehatan pengguna, background pekerjaan pengguna, aktivitas dan mood terakhir pengguna, sampai suhu lingkungan disekitar pengguna.

Jadi misalkan saya seorang pegawai kantoran yang di pagi harinya saya baru saja melakukan rapat dan dalam rapat tersebut saya komplain dari divisi lain. Saat saya hendak menggunakan Foodie Talk ini di siang hari, cuaca agak mendung dan dingin , sehingga aplikasi Foodie Talk akan melakukan rekomendasi untuk meminum air jeruk hangat, karena kandungan viamin C dapat mengurangi hormon yang menyebabkan stress. Untuk makanannya akan direkomendasikan ikan salmon yang kandungan omega 3 nya dapat menghilangkan stress. Semua itu hanya contohnya saja, karena butuh riset lebih lanjut nantinya atau mengambil dari suatu jurnal penelitian yang kredibel untuk mengetahui manfaat dari kandungan makanan.

Setelah didapat rekomendasi makanan yang diberikan, aplikasi ini juga akan membantu mencarikan tempat makan terdekat yang menyediakan rekomendasi makanan tersebut. Jadi selain merekomendasikan makanan juga akan membantu mencarikan tempat mendapatkan makanan tersebut.

Jadi 4 aktivitas utamanya:

  1. Register (isi biodata riwayat kesehatan, pekerjaan)
  2. Set last activity & mood
  3. Get food recommendation
  4. Get place recommendation

Dengan adanya foodie talk ini, jadi ga perlu buang buang waktu lagi ya buat mikirin makan siang 😀 dan bisa mendapatkan makanan yang sesuai dengan kondisi lidah dan perut saat itu.

Ide Startup: TemenNgobrol

Malam malam gini kepikiran ide startup, namanya TemenNgobrol. Bentuknya suatu aplikasi yang menjembatani orang yang lagi butuh ngobrol sama orang lain yaitu  staff dari TemenNgobrol sendiri. Bukan sekedar ngobrol ngalor ngidul ga jelas, apalagi ngobrolin yang melanggar etika dan norma-norma yang berlaku. Tapi staff dari TemenNgobrol bisa memberikan suatu saran/masukan yang membangun untuk lawan bicaranya, jadi staffnya harus yang model-model motivator gitu tapi tetep gaya bicaranya bisa santai, ya ngikutin background lawan bicaranya juga. Arah komunikasinya bisa private 1-1 , atau group 1-N, dan bisa milih inti tema yang mau diobrolin, ada tentang masalah cinta, pekerjaan, pertemanan, sampai mentoring bisnis untuk pengusaha muda juga bisa.

Ya mirip-mirip sesi curhat di radio radio gitu kalau malam-malam sih. Penyiarnya kan suka ngasih masukan yang membangun gitu. Target marketnya bisa untuk anak remaja sampai orang dewasa yang lagi galau gitu deh. Karena kalau lagi ada masalah, semua orang butuh diobrolin sama orang lain kan. Haha ga harus lagi galau juga sih, cuman lagi butuh masukan seperti mentoring bisnis juga bisa kan.

Seperti kata Paulo Freire, “Only through communication can human life hold meaning”

Untuk monetization, bisa bulanan atau one time payment atau per sesi gitu. Ya karena ga harus tiap hari orang butuh temen ngobrol kan, tapi kalau yang suka ngobrol monggo wae.

Kalau ada yang bisa eksekusi ide ini, saya sih bersedia jadi customer pertamanya, hehehehe.