Lookats Conference 2017

 

lookats2Hari Kamis dan Jumat lalu, saya sempatkan untuk datang ke acara Lookats Conference 2017 yang diiadakan di Trans Convention Centre. Lookats Conference sendiri adalah suatu acara yang diadakan selama 3 hari yang menghadirkan para pelaku di industri kreatif, yang tidak hanya berasal dari perusahaan IT saja namun juga dari fashion , F&B, dan sport. Diantaranya adalah Agate Studio, BukaLapak, Tiket.com, GoJek, Line, Brodo, Warunk Upnormal Group dan masih banyak lainnya.

Dengan tiket seharga Rp 175.000 per hari, Lookats menghadirkan para pembicara yang merupakan para founder atau juga orang-orang yang berada di posisi top manajemen perusahaan tersebut, sebut saja ada Natalie Ardianto CTO/co founder TIket.com , Arief Widhiyasa co founder Agate Studio, dan Dayu Dara Permata Vice President GoJek. Bahkan awalnya juga mengundang Wali Kota Bandung Ridwan Kamil di Day 2, namun karena berhalangan hadir sehingga harus diwakilkan.

 

lookats

Di suatu sesi dengan pembicara Arief Widhiyasa co founder Agate Studio yang bertemakan The overlooked: Team & People Management, mengatakan bahwa visi dari the whole team haruslah berada dalam satu garis yang sama, dalam artian visi para karyawan tidaklah harus sama persis dengan visi perusahaan, namun jika para karyawan membantu perusahaan mencapai visinya maka visi masing-masing karyawan tersebut akan juga tercapai.

Arief Widhiyasa mencontohkannya dengan film One Piece, dalam film tersebut Monkey D Luffy kapten kelompok bajak laut Topi Jerami mempunyai cita-cita menjadi Raja Bajak Laut. Namun para kru lainnya di kelompok bajak laut Topi Jerami masing-masing mempunyai cita-cita yang berbeda seperti Nami yang ingin membuat peta dunia, Sanji yang ingin mengumpulkan ikan di seluruh dunia. Baik Nami dan Sanji sadar jika mereka membantu kaptennya Monkey D Luffy menjadi raja bajak laut, maka cita-cita mereka pun otomatis akan tercapai juga, sehingga mereka dengan sepenuh hati selalu membantu Luffy dan mereka menjadi tim yang solid. Jadi dari sana adanya hubungan yang saling menguntungkan di  kedua belah pihak disamping gaji para karyawan.

Di sesi lain, founder Brodo dan Talenta.co yang ada dalam satu panggung sepakat bahwa hal tersulit dalam mengelola perusahaan adalah manage the people. Founder Talenta, Joshua Kevin mengatakan mengelola karyawan lebih sulit daripada membuat dan menjual produk. Serupa dengan Talenta, Brodo yang awalnya terbentuk dari lingkungan pertemanan sehingga budaya “pertemanan” masih lekat di tubuh perusahan, membuat mereka kesulitan saat akan bertindak tegas pada karyawan yang memiliki performa buruk. Mereka juga mengatakan janganlah asal dan salah dalam merekruit karyawan, carilah karyawan yang benar-benar dibutuhkan.

Dalam sesi yang dibawakan oleh Berkraf (Badan Ekonomi Kreatif Indonesia) diperkenalkan suatu “trend” dimana banyak perusahaan yang keluar dari core businessnya . Contoh saja Gojek yang semula adalah perusahaan logistik/transportasi namun sekarang juga menjadi “bank” dengan diluncurkannya Go Pay, bahkan juga dengan adanya Go Food dan Go Mart bisa dikategorikan sebagai ecommerce. Selain Gojek ada juga Telkomsel yang sekarang juga masuk ke sektor Fintech dengan adanya T Cash.

Dalam acara ini, tidak hanya saja terus membahas mengenai how to run a bisnis, branding, atau mengelola karyawan. Namun juga ada lesson life yang didapat dari acara ini, salah satunya adalah dari CEO Kibar, Yansen Kamto yang sedang mengkampanyekan gerakan 1000 startup digital. Yansen yang sejak kecil sudah dididik untuk saling berbagi dengan sering mengunjungi Panti Asuhan bersama ibunya untuk berbagi makan disana, sehingga rasa kepedulian itu tertanam dalam dirinya hingga sekarang. Yamsen juga mengatakan “Indonesia tidak butuh orang pintar, tapi butuh yang punya hati.”

 

lookats3

lookats4

 

lookats5

No Comments

Post a Comment